Menyimpan
sendiri
Merasakan sendiri
Bahagia sendiri
Sedih sendiri
Tertawa sendiri
Menangis sendiri
Tersipu sendiri
dan
akhirnya menyerah sendiri
Orang gila.
Jangan tertawakan.
Kasihan sekali
saya.......
desty@nurmadestyanggraeni.blogspot.com
Wednesday, April 24, 2013
Friday, April 19, 2013
Maruko x Hanawa
Penggemar
Maruko pasti tahu dong kalau Maruko pernah di gosipkan dengan Hamaji? Kekeke~
itu semua terjadi karena Butarou (kalau enggak salah) memergoki Maruko
memberikan souvernir oleh-oleh ke Hamaji dan disouvernir itu tertulis “I Love
You”.
Dan disini, aku
mikir. Kalau misalnya Maruko ditakdirkan untuk menikah dengan salah satu
temannya, aku sih setujunya Maruko dengan Hanawa. Hahaha. Pasti cocok.
![]() |
| Hanawa ya... |
Coba pikir,
Hanawa yang tampan, kaya raya dan baik hati pasti bisa membahagiakan Maruko
dengan apa yang dia punya. Tahu sendiri ‘kan kalau salah satu impian
Maruko itu menjadi Nyonya Besar yang
kaya raya. Pasti enggak akan sulit kalau dia bersama Hanawa. Terus aku juga
sadar setiap Maruko ngobrol dengan Tamae pasti si Hanawa juga ikut
nyempil, nyapa Maruko sambil bilang “Hai baby~”. Hahaha.
![]() |
| Nyonya besar?? heee~~~ |
Begitu juga
dengan Hanawa. Dibalik penampilan yang serba ‘wah’ itu Hanawa sebetulnya kesepian
karena orang tuanya yang jarang pulang. Nah, kalau Hanawa menikah dengan Maruko
dijamin deh bakalan enggak kesepian lagi, apalagi kalau tinggal bersama
keluarga Sakura yang emang rada-rada itu. Klop deh.
Ini menurut
pemikiran aku ya, setuju banget deh sama couple ini. Cuma Maruko siap-siap aja
diteror seumur hidup dengan Migiwa. Kkkkkk~~~~
desty@nurmadestyanggraeni.blogspot.com
Thursday, March 28, 2013
Anata ni Aitai
Lagu ini cocok sekali untuk orang-orang yang sedang jatuh cinta. Walaupun singkat tapi artinya 'ngena'. Make sure this is yours, guys!
Download : here
Download : here
ANATA NI AITAI (INGIN BERTEMU DENGANMU)
shinu no wa
kowakunai
kowai no wa anata to nido to aenai koto
kowai no wa anata to nido to aenai koto
koishita koto nado kore made nakatta
dakara kore ga koi to wa ima demo wakaranai
wakaru no wa wakaru no wa...
dakara kore ga koi to wa ima demo wakaranai
wakaru no wa wakaru no wa...
anata ni aitai anata ni aitai
anata ni au tame ima ichido ikitai
anata ni au tame ima ichido ikitai
osoreta koto nado kore made nakatta
dakara konna ni furueteru jibun ga wakaranai
wakaru no wa wakaru no wa...
dakara konna ni furueteru jibun ga wakaranai
wakaru no wa wakaru no wa...
anata ni aitai anata ni aitai
anata ni au tame ima ichido ikitai
anata ni au tame ima ichido ikitai
anata ni aitai anata ni aitai
anata ni au tame ima ichido ikitai!
anata ni au tame ima ichido ikitai!
~~~
I'm not afraid to die
What I am afraid of is never seeing you again
What I am afraid of is never seeing you again
Up until now, I've never been in love
So even now, I don't know if this is love
What I do know is, what I do know is...
So even now, I don't know if this is love
What I do know is, what I do know is...
I want to see you, I want to see you
In order to see you, I want to live right now
In order to see you, I want to live right now
Up until now, I've never been afraid of anything
So I don't know why I'm trembling this much now
What I do know is, what I do know is...
So I don't know why I'm trembling this much now
What I do know is, what I do know is...
I want to see you, I want to see you
In order to see you, I want to live right now
In order to see you, I want to live right now
I want to see you, I want to see you
In order to see you, I want to live right now!
In order to see you, I want to live right now!
Saturday, January 19, 2013
Cerpen : Tak Akan Ada Lagi
TAK AKAN ADA LAGI
Oleh : Nurma Desty Anggraeni
“Loh?
Kamu tidak jadi masuk universitas itu, Nit? Katanya kamu mau terus dekat sama kakakmu itu? Dia bukan mahasiswa universitas ini loh.”
Kataku seraya menyikut usil Nita yang sedari tadi berkutat didepan laptop,
sibuk mengisi formulir pendaftaran online
sebuah universitas kenamaan Indonesia. Nita yang mendengar itu hanya tersenyum
simpul.
“Aku
tidak sebodoh itu mempertaruhkan masa depanku hanya demi hal sepele,” jawabnya
singkat. Aku terdiam. Wajahku memucat, aku merasa seperti dihujam oleh ribuan
batu tajam tepat dijantungku.
“Se..
sepele?”
“Ya,”
kali ini Nita menoleh kearahku “Mungkin aku memang tergila-gila dengannya tapi
itu tidak membuatku gelap mata, lalu mempertaruhkan segalanya hanya demi bisa
terus berada didekatnya. Tidak.”
***
“Duh,
lama banget sih!” gerutuku melempar gelas plastik bekas milkshake ke tong sampah. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul
12:30. Satu jam dari yang dijanjikan. Bahkan milkshake yang aku pesankan untuknya juga sudah mencair menjadi air
seutuhnya. “Huh! Kalau dia tidak muncul-muncul juga, akan aku habiskan juga milkshake durian ini!”
Tik
tik tik tik. Pergerakan jarum jam tangan yang biasanya mustahil aku bisa aku
dengar, kini malah terdengar keras sekali ditelingaku. Seakan-akan sengaja
mengejekku yang sedari tadi menunggu seseorang yang entah sekarang ada dimana.
Seseorang yang bahkan belum tampak batang hidungnya sampai sekarang padahal
kemarin dia dengan soknya berkata bahwa dia akan sampai duluan.
“Huh!
Kak Ansa mana sih! Lama banget!” teriakku kesal. “Ah aku mau
pulang! Tahu gini lebih baik aku main game saja dirumah! Huh!” Kulempar milkshake durian tadi ke tong sampah.
Tidak masuk. Gelas plastiknya malah pecah dan meluber kemana-mana. Huh, biarkan
saja. “Heh, mau apa lihat-lihat, hah?” bentakku kepada dua orang perempuan yang
sedari tadi melihatku dengan tatapan aneh.
“Ti..
tidak apa apa” kata mereka terbata-bata seraya cepat-cepat menyingkir dariku
yang sudah siap meledak. Mungkin mereka ketakutan melihat sikapku yang
beringas. Dasar gadis gila, bisik salah satu dari mereka. Yang satunya hanya
mengangguk setuju.
“Cih,
dasar gadis-gadis cengeng. Beraninya dibelakang! Sudah ah! Aku pulang, masa bodoh sama kak
Ansa.” Aku pun siap melangkah pergi. Tapi langkahku terhenti saat aku mendengar
suara tawa dibelakangku.
“Hahahahahahahahahahaha!!”
Suara
tawa itu.
“Kak……
Ansa……!!!!!!!!!” seruku kesal.
“Hahahahahaha!
Asty! Asty! Coba kamu lihat bagaimana wajahmu tadi. Hahahaha. Dua orang tadi
sampai pucat hahahaha. Tong sampah itu juga sampai penyok gara-gara kamu. Hahaha.
Kamu emang gak pernah berubah ya hahahaaa aduh!” ringis kak Ansa, merasakan
jitakan mautku.
“Ya!
Kakak kemana aja sih! Bukannya minta maaf malah ketawa!” seruku, melancarkan
tatapan maut. Orang yang ditanya malah meringis geli.
“Hahaha.
Maaf maaf. Kakak dari tadi sudah disini kok. Cuma kamu aja yang gak sadar.”
“Kok
kakak gak manggil aku sih! Kalau gitu kan aku gak perlu buang-buang tenaga buat
marah-marah!” ujarku bersungut-sungut.
“Seng-a-ja.
Hahaha. Jangan ngambek dong. Lagipula sudah lama kakak gak lihat wajah konyolmu
itu kalau lagi marah-marah. Hehehe. Maaf ya, jangan marah-marah lagi dong ya,”
katanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Melihat
dia yang tersenyum lebar seperti itu, mau tak mau aku pun ikut tersenyum. Ah, aku memang selalu lemah jika berhadapan
dengannya “Huu. Iya deh iya”.
“Nah
gitu dong. Yuk pergi!” aku mengangguk, dan berjalan disampingnya. Sesekali
kupandangi wajahnya yang terus tersenyum itu.
Kak
Ansa. Orang yang sudah masuk kedalam daftar orang-orang
istimewa dalam hidupku bahkan sejak pertama kali kami bertemu. Pacar? Haha.
Tentu saja bukan. Dia hanyalah seorang kakak kelas di sekolahku yang kemudian
naik tingkat menjadi sahabatku yang paling dekat. Ya, aku akui aku memang
menyukainya. Sangat menyukainya. Tapi aku tidak terlalu ambil pusing soal
status-status seperti itu. Selama aku bisa mnghabiskan waktu bersamanya, titel
sahabat pun tak jadi masalah. Hahaha. Pokoknya dia adalah orang yang paling
mengerti aku. Hanya padanyalah aku bisa terbuka, dan hanya dialah yang bisa membuatku
tersenyum kembali, tak peduli seburuk
apapun suasana hatiku.
Aku
jadi ingat saat pertama kali bertegur sapa dengannya. Peristiwa memalukan. aku
menabrak dan menumpahkan soda kebajunya. Aku yang panik hanya bisa meminta
maaf. Tapi bukannya marah dia malah tertawa dan berkata bahwa itu bukan masalah
besar. Melihat sikapnya yang berlawanan 180º dari kakak-kakak kelas lainnya mau
tak mau membuat aku tersanjung. Hell yeah
mungkin sejak itu aku sudah memendam rasa lebih padanya.Pertemuan kami
selanjutnya adalah di klub karate. Ternyata dia juga memiliki hobi yang sama
denganku! Dari situlah kami mulai bertegur sapa dan dekat. Sampai detik ini.
“Hei.
Kok melamun sih?” tegur kak Ansa membuyarkan lamunanku. Disodorkannya es krim
yang dibelinya. Aku mengangkat bahu “Tidak, aku cuma sedikit lelah. Hehehe.”
Ya, aku memang lelah setelah seharian bermain di taman bermain ini.
“Wajar
sih, soalnya sudah lama juga kan kita gak pergi seperti ini” kata kak Ansa. Aku
hanya bergumam mengiyakan. Memang sudah lama kami tidak pergi keluar bersama
sejak kak Ansa sibuk belajar dan tryout mempersiapkan
diri untuk UN dan tes masuk SMA. Tak
lama lagi kak Ansa akan lulus dan pergi dari SMP. Dan itu artinya sebentar lagi
aku akan berpisah dengan kak Ansa. Hanya berbeda sekolah sih, tapi tetap saja
berpisah kan?
“Kak
Ansa, kakak jadi masuk smansa?” tanyaku. Kak Ansa mengangguk mantap. “Iya dong.
Itu kan sudah menjadi cita-cita kakak sejak dulu. Memang kenapa?”
Aku
menghela nafas, “Waktu cepat sekali berjalan ya kak.” Kak Ansa tersenyum
simpul. Senyum yang tidak bisa aku artikan apa maksudnya. Ah, dia pasti
mengerti perasaanku, as always.
“Ya.
Tidak ada kekuatan apapun yang dapat menghentikan atau memperlambatnya. Kita
hanya bisa terus berjalan, mengalir dan memanfaatkan waktu yang ada untuk
mencapai hal-hal yang kita inginkan. Begitu juga yang bisa kita lakukan, Asty.
Kakak ingin tetap seperti ini, tapi itu mustahil. Kakak harus terus berjalan,
berpindah. Begitu juga kau. Kalau Asty ingin terus bersama kakak, maka
belajarlah supaya bisa masuk smansa dan kita bisa sama-sama lagi. Tapi pilihan
semua ada ditanganmu. Ada atau tidaknya kita,
kau dan aku akan terus berjalan. Ya, Walaupun kau menutupinya, tapi kakak tahu
kalau Asty ingin selalu bersama kakak, ya kan?” katanya menggodaku.
Sontak
mukaku memerah mendengarnya. Sial kenapa sih dia selalu bisa menebak
keinginanku dengan tepat, pikirku.
“Ih
najis! Kakak ge-ernya kebangetan sih.” Cibirku. “Tapi..OK! Tunggu aku ya kak!
Aku janji!”
Ya.
Aku berjanji. Dan aku menepatinya. Tapi apa yang aku terima? Sebuah penolakan
terkejam yang pernah ada dimuka bumi ini. Dia.. dia tidak menghiraukan aku saat
aku memanggilnya, tidak sedikitpun menoleh padaku bahkan saat berpapasan
dikoridor sekolah. Dia seakan menganggapku tidak ada. Kejam. Kejam sekali. Apa
yang dia lakukan? Kenapa dia seperti itu kepadaku? Apa salahku?
Saat
ia meninggalkan SMP, kami masih sempat bertukar kabar. Tapi lama kelamaan dia
tidak lagi rajin membalas pesanku, tidak lagi mengangkat teleponku. Bahkan dia
menganti nomornya dan tidak lagi menghubungiku setelahnya. Aku merasa sangat
kehilangan. Itulah mengapa aku merasa sangat bahagia saat melihatnya pertama
kali di parkiran SMA. Akhirnya…
“Kak
Ansa!” panggilku dengan penuh semangat. Itu adalah pertemuan pertama kami
setelah dua tahun tidak bertemu. Pertemuan pertama di sekolah baru. Aku begitu
senang ketika dia menoleh. Benar! Benar! Itu benar-benar dia!
Tapi,
bukannya tersenyum seperti yang aku harapkan, dia malah memandangku dengan
tatapan kosong, lalu kembali membelakangiku, tak menghiraukan aku yang
tercengang dibelakangnya. Aku yakin. Aku yakin sekali dia melihatku! Tidak
mungkin dia tidak menyadari kehadiranku. Mengapa dia seperti itu? Mengapa?
Potongan
memori kejam itu, ditambah lagi kenangan-kenangan akan kebersamaan kami dimasa
lalu terus membayangiku. Memenuhi otakku, membuatku sesak dan muak. Aku tidak
tahan lagi!
Aku harus
menemuinya dan meminta penjelasan. Harus.
“Kak
Ansa. Kita harus bicara!” Kutarik dia ke bawah pohon dilapangan depan sekolah
dengan kasar. Tak kupedulikan teman-temannya yang terheran-heran melihatku menyeret
pergi kak Ansa.
“Ada
apa ini? Kau, mau apa?” Tanya kak Ansa dengan nada datar seperti tidak ada yang
perlu di khawatirkan. Nada yang membuat aku mual.
“Aku
mau penjelasan!” bentakku. “Kenapa? Kenapa kakak seperti ini padaku? Kakak
memutuskan kontak seenaknya! Lalu.. lalu kakak bertingkah seperti tidak pernah
mengenalku.”
“Kita
memang tidak saling mengenal, bukan?” ucapnya datar.
Aku
tercekat mendengarnya. “Apa? Apa maksudmu kita tidak saling mengenal,hah? Bagaimana
mungkin kau tidak mengenalku! Ini aku Asty! Asty! Sahabat kecilmu yang selalu
bersamamu saat kita SMP dulu! Yang berjanji akan berjuang agar bisa masuk ke
sekolah ini, agar kita bisa bersama seperti dulu! Aku sudah menepati janjiku.
Tapi mengapa kau seperti ini?”
“Aku
sama sekali tidak menyangka kalau kau akan menganggap serius semua perkataanku
saat itu, padahal aku hanya bercanda menyuruhmu terus mengikutiku.” Katanya
datar.
“Bercanda?
Tega… Padahal aku.. aku selalu memikirkan kakak! Aku selalu berjuang supaya aku
bisa meraihmu. Tapi…” aku mati-matian menjaga agar suaraku tidak bergetar.
“Se-begitu tidak berharganya kah masa lalu dimatamu, kak?” tanyaku pelan.
Kak
Ansa menghela nafas pelan, “Ya. Dan jika kita memang saling mengenal, itu hanya
di masa lalu, Asty. Aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu. Bukankah aku
pernah mengatakannya kepadamu? Aku harus
terus berjalan, berpindah. Semua
pilihan ada ditanganmu. Ada atau tidaknya kita, kau dan aku akan terus
berjalan. Tidakkah kau mengerti apa maksudku saat itu? Dan Ini adalah
pilihanku. Jadi, aku harap kau berhenti mengejar bayang yang hanya ada di masa
lalu. Berdirilah dan melangkahlah kedepan. Jangan lagi memikirkan aku.. karena
aku tidak pantas untuk kau pikirkan. Maaf Asty, tapi aku tidak bisa menerima
perasaanmu dan kembali menjadi “kakak
Ansa”-mu lagi.” Katanya mengakhiri
semuanya. Dia pun berbalik pergi meninggalkanku.
Perkataannya
seperti ultimatum yang tidak akan pernah bisa dibantah. Aku hanya bisa
tercengang, tenggelam ke dalam bagian paling kelam dihatiku. Hancur. Berakhir
sudah. Segalanya.
***
Kuseka
air mataku yang mengalir. “Sial! Bantalku jadi basah gini kan. Dasar bodoh.
Ngapain juga aku masih mikirin dia.. Hahaha bodoh!” Gerutuku, mengasihani diri
sendiri.
Ya.
Kasihan sekali diriku ini. Peristiwa itu sudah berlalu bertahun-tahun yang
lalu, tapi aku masih saja belum bisa melupakan kak Ansa sepenuhnya. Miris
memang, Asty yang tomboy, kuat dan dikagumi teman-temannya akan keberaniannya
ini justru dibuat sangat lemah oleh hal-hal ‘sepele’seperti cinta. Sampai
sekarang, rahasia ini hanya aku, Tuhan dan Nita yang tahu. Nita-lah yang selalu
menguatkan dan memperingatkanku agar tidak lagi terbodohi oleh cinta.
Ah,
Nita. Aku sangat kagum sekaligus iri dengannya. Seandainya
aku punya pemikiran yang sama dengannya waktu itu, kurasa aku tidak akan
seperti ini sekarang. Haha. Konyol memang, tapi sudah aku katakan sebelumnya
bukan? Aku memang lemah jika dihadapkan dengan masalah cinta.
“Lovin' you tsunaideta kimi no te ga… Lovin' you hanarete yuku..”
Lovin’ You dari Tohoshinki berdendang lembut. Ada pesan rupanya. Malas-malasan kuraih ponselku. Aku tertegun membaca pesan yang ada.
“Hai Asty. Apa kabar?
Mungkin agak aneh karena sudah lama kita tak bertegur sapa.
Aku benar-benar minta maaf dan merasa sangat menyesal akan hari itu.
Maafkan aku. Aku tidak tahu apa kau masih sudi membalas pesan ini.
Tapi aku tahu aku akan sangat senang dan bersyukur jika kau melakukannya
- Kak Ansa.”
Aku tersenyum simpul. Ku matikan ponsel dan membiarkannya tergeletak disampingku. Tidak lagi. Tidak akan ada lagi.
Labels:
karyaku
Wednesday, December 19, 2012
Cinta dalam hati [Vampire stories : BROTHER]
Hola~~! o/
akhirnya bisa nge-blog juga. hehehe. apa kabar readers?
kali ini aku datang mau ngebahas salah satu film yang baru aku tonton, yaitu Vampire Stories : BROTHER. (kita singkat VS-B aja ya ^_^)
Sebenarnya aku mau ngebahas film ini segera setelah aku selesai menontonnya. Tapi dikarenakan demam yang gak diundang datang, jadi terpaksa baru sekarang aku bahas :(
WARNING : Saya tidak membocorkan sinopsis cerita, melainkan HAMPIR KESELURUHAN cerita. Jadi bagi yang belum menonton film ini, harap close laman ini, pergi kesini [Vampire Stories : BROTHER], download dan tonton filmnya terlebih dahulu lalu kembali lagi kesini jika ingin sharing pendapat. Tapi silakan kalau anda ingin melanjutkan membaca habis postingan ini sebelum menonton filmnya, yang jelas saya tidak bertanggung jawab terhadap apa yang akan terjadi pada anda selanjutnya.
XD
Ok, Vampire Stories ini secara umum berceritakan tentang kehidupan vampire (iya lah --a). Cerita film ini terbagi atas dua kisah yaitu BROTHER dan CHASER.
Kali ini aku akan membahas bagian yang BROTHER. Kenapa? Karena selain inilah yang bagian pertama, aku juga baru download dan menonton yang bagian ini saja. sedangkan yang CHASER belum. hehehe.
MAIN CAST
![]() |
| Yanagishita Tomo as Sei |
![]() |
| Kato Kazuki as Ai |
![]() |
| Suzuki Airi as Midori |
Dari pemainnya pun kalian pasti sudah tahu kenapa aku bisa tahu tentang film ini dan tertarik menontonnya. Ya.. karena film ini dibintangi oleh salah satu oshimen-ku di Hello! Project, Suzuki Airi senpai ^__^ tapi bukan berarti aku tidak tertarik akan cerita filmnya loh..
cerita film ini cukup menarik dan......... galau.
yep. VS-B bercerita tentang kegundahan Sei tentang nasibnya yang ditakdirkan sebagai vampire.
Film ini dimulai dengan adegan dimana Sei dan Midori (yang merupakan kakak-adik) sedang bersenang-senang, berpiknik ditepi sungai dan mengadakan barbeque bersama keenam teman lainnya. Suasana sangat menyenangkan sampai secara tiba-tiba Sei pingsan. Karena khawatir akan keadaan Sei, Midori pun pamit dan membawa Sei pulang. Sedangkan keenam orang lainnya melanjutkan piknik mereka.
Didalam bus, Sei yang sudah sadar kembali tertidur dan bermimpi tentang Ai -kakak mereka yang paling tua yang menghilang entah kemana-. Dimimpi itulah akhirnya terlihat jelas masalah utama yang akan dikupas habis dalam film ini. Ai, Sei, dan Midori merupakan saudara tanpa ikatan darah. Ai (10) dan Sei (5) merupakan anak terlantar yang kemudian dibawa kerumah oleh ayahnya Midori.
Midori : Ayah, Mereka itu siapa?Ayah : Mereka adalah anggota keluarga baru kita.
Inilah awal dari kisah bahagia keluarga mereka. Ai, Sei dan Midori menjalin hubungan persaudaraan yang sangat erat. Tapi semua berubah dalam sekejap. Dimalam ulang tahun Sei yang ke-15 Ai menghilang! Tidak ada yang tahu kemana perginya Ai dan mengapa ia pergi, kecuali Sei. Sei tahu pasti apa yang terjadi pada kakaknya namun tidak ingin mempercayainya-Sei menemukan kakaknya sedang menikmati darah didalam kamarnya. Karena ketidakjelasan alasan, akhirnya keluarga melaporkan hilangnya Ai sebagai kematian.
ini adalah cerita lima tahun kemudian, seminggu sebelum ulang tahun Sei yang ke-20.
Setelah menempuh perjalanan pulang, akhirnya Midori dan Sei sampai kerumah kecil mereka yang nyaman. Rumah tampak lengang karena memang hanya mereka berdua saja yang tinggal disana sekarang. Kedua orangtua mereka sudah pindah ke luar negeri.
Paginya, Sei yang sudah merasa baikan, memutuskan untuk menonton siaran berita sembari menunggu Midori menyiapkan sarapan mereka. Disanalah ia mengetahui bahwa ke-empat temannya telah mati dibunuh di villa yang mereka sewa. Empat, sedangkan dua teman lainnya hilang entah kemana (hilangnya kedua teman ini akan dijelaskan di seri selanjutnya, CHASER).
Sei sangat terpukul akan kejadian yang menimpa teman-temannya itu terlebih lagi ketika mendengar dari keterangan yang diberikan polisi bahwa keempat temannya bukanlah tewas dengan cara yang normal melainkan mereka tewas karena kehilangan begitu banyak darah dari tubuh mereka. Anehnya lagi tidak ada satupun bekas luka ataupun bercak darah yang tercecer, jika memang mereka mati akibat bunuh diri.
Sepulangnya dari kantor polisi, Sei berubah menjadi pemurung. Suasana sangat suram walaupun Midori tetap berusaha tersenyum dan menghibur Sei.
Keanehan semakin merebak setelah secara misterius Ai kembali pulang! Sei sangat terkejut akan kembalinya Ai sedangkan Midori sangat senang melihat kakaknya itu kembali. Dia terus tersenyum dan terus bertanya apakah Ai akan tinggal bersama mereka lagi.
Keadaan sangat sulit dijelaskan pada tahap ini. Sei dan Ai terlibat pertengkaran dalam diam -yang tentu saja penuh emosi. Sei yang tidak berkomentar apapun tentang kedatangan Ai membuat Midori bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi. Pergolakan emosi Sei semakin terlihat ketika ia menemui Ai di kamarnya. Dia bertanya mengapa Ai tega meninggalkan dia dan Midori. Jawaban Ai yang tegas dan lembut bahwa dia sangat menyesal dan berjanji tidak akan pergi lagi sedikit melunakkan emosi Sei malam itu.
Keesokan harinya, kesuraman mulai berkurang. Midori yang tak tahan melihat Sei dan Ai yang saling melempar diam pun mengajak mereka berdua pergi jalan-jalan ke taman. Disana suasana mencair. Mereka berfoto bersama dan memakan es krim. Midori sangat bahagia melihat kedua kakaknya itu berbaikan kembai, walaupun masih agak canggung.
Tapi, bukan berarti masalah selesai sampai disini. Justru ditahap inilah masalah utama muncul. Sei, secara perlahan merasakan keanehan dalam dirinya. Ia -entah mengapa- jadi sangat bernafsu melihat leher Midori. oo~ jangan berpikiran negatif dulu teman-teman XD. Ia merasakan lonjakan aneh yang muncul dalam pikirannya untuk segera menyambar leher itu, menggigit, dan menghisap habis seluruh darah yang mengalir hangat dibaliknya.
Perasaan aneh itu semakin mendesak dan membuat Sei frustasi. Ia tidak mengerti mengapa dia seperti itu, bukan hanya dengan Midori saja tapi itu terjadi setiap kali ia melihat leher orang lain. Tak tahan akan nafsunya yang mengebu, Sei pun memutuskan untuk keluar dan mencari udara segar.
Ketika ia sampai di sebuah jembatan, tiba-tiba ia mendengar suara pekikan tertahan. Penasaran, ia pun mencari sumber suara. Ternyata itu adalah suara seorang lelaki yang mengerang kesakitan karena diserang Ai. Ya! diserang Ai! Sei yang kebingungan pun meminta penjelasan.
Disinilah terkuak segala misteri. Ai membongkar segalanya, tentang siapa sebenarnya Sei dan dirinya. Ai pun berkata sudah semakin dekat hingga tiba saatnya Sei untuk memutuskan takdirnya. Sei menolak dengan keras. Dia tidak ingin dan tidak akan menjadi vampir! Kemudian Ai mengatakan satu rahasia yang menghancurkan semua hal, di saat usia Sei genap berusia 20 tahun, Sei akan mengalami perubahan hebat dalam tubuhnya. Disaat itu, Sei harus mencari korban dan meminum darahnya sampai habis. Jika tidak, berarti hanya ada dua pilihan, menjadi vampir atau mati.
Lalu, jalan mana yang akhirnya Sei pilih dan apa alasan yang menyebabkan Ai tega meninggalkan keluarganya dan menghilang selama 5 tahun?
Jawabannya ada di bagian akhir film ini ... XD
Hell yeah~ sebenarnya aku ingin sekali menceritakan film ini sampai habis, menjelaskan detail setiap kejadian yang ada. Tapi........................... tidak. aku masih punya hati nurani. Tidak tega ah sama orang yang belum nonton film ini. Kasihan mereka kalau sudah tahu kelanjutan dan detail tiap adegan sebelum nonton. kkkk~~~
Biasanya aku akan memilih satu tokoh yang paling aku sukai. Tapi kali ini aku memilih ketiga tokoh sentral ini. Ya! tiga-tiganya!! :3
Midori. Aku sangat kagum akan ketegaran hati Midori. Jika aku menjadi dia, kurasa aku sudah lama pergi, ikut meninggalkan Jepang agar bisa melupakan kenangan buruk tentang hilangnya Ai. Tapi Midori malah memilih tetap tinggal meski hanya berdua dengan Sei. Ia percaya bahwa Ai masih hidup dan dia akan menunggunya kembali bersama Sei. Selain itu sikapnya yang cinta damai, penuh kasih sayang dan keibuan -terutama pada Sei- sangat mempesona menurutku. itulah sebabnya walau peranan Midori lebih sedikit dibanding kedua tokoh lain tapi kehadirannya begitu kuat bagiku.
Sei. Walaupun terkadang dia sangat pemurung dan ling-lung, tapi aku suka tokoh ini, Jujur, aku jatuh cinta pada karakternya XD. Memang sebagai laki-laki Sei sangat lemah dan penuh dengan gejolak emosi, tapi aku juga menangkap kesan penuh kasih sayang dan perhatian. Baik pada Midori maupun pada kakaknya, Ai. Sei juga sangat teguh jika sudah berpendapat akan sesuatu. Sifat ini terlihat jelas diakhir cerita. Ya, Sei adalah tipe ideal idaman sebagai sosok yang merangkap sebagai adik maupun kakak.
Membuang orang yang berharga dan hidup tanpa perasaan. Itulah yang kita sebut monster. Aku tidak mau hidup seperti itu! - Sei
Ai. Dicerita ini dia dikesan-kan sebagai orang yang dingin dan cuek. Tapi tetap saja itu tidak bisa menipuku, tidak bisa menutupi mataku untuk menyadari bahwa Ai adalah sosok yang hangat dan penuh tanggung jawab sebagai seorang kakak. Memang keputusan akhir yang dia buat diakhir cerita sungguh kejam. Tapi kupikir dia juga pasti sangat menderita akan hal itu. (hal apa? kalian akan tahu jika menonton filmnya! XD)
Inilah poin tambahan yang diberi film ini.
Walaupun bertema vampir dan kekejaman, film ini mampu membuat kita merasa betapa kuatnya kasih sayang sehingga bisa membutakan kita, melakukan hal yang sepantasnya tidak kita lakukan, demi orang yang kita sayangi.
:)
Selain itu, ada satu hal yang aku notice banget. Yaitu.......... kisah cinta terpendam antara Sei dan Midori. Iya!!! Walaupun tidak dikatakan dengan jelas, tapi melalui hal-hal kecil di film ini cukup membuatku menarik kesimpulan bahwa... SEI SANGAT MENCINTAI MIDORI DAN MIDORI MENARUH HATI PADA SEI. SEI DAN MIDORI SALING MENCINTAI.
Perhatian-perhatian kecil yang saling mereka berikan, senyuman dan tatapan berarti yang saling mereka lemparkan, serta hingga pada akhirnya luapan perasaan Sei dan janji bahwa mereka akan terus bersama dari Midori, semakin membuat kisah cinta dalam hati ini bertambah manis.
Manis sekali~!!!!!! >,<
KYAAAAAAAAAAA!!!! >"""""""<
Aku suka sekali pasangan ini!!!
Aneh sekali mengingat kenyataan bahwa aku sudah menyukai pasangan ini bahkan di adegan awal saat mereka berbicara berdua di pesta barbeque XDDD
Sempat kecewa pada awalnya waktu tahu bahwa mereka bersaudara. Tapi kembali lega waktu tahu mereka gak sedarah. kkkkkkkkkkkkkk~~~~~~~ XDDD
Here are some caps of their oh-so-sweet scenes! I take it immediately while watching it! kkkk~ XD *bagitu ada adegan romantis langsung aku capture XD*
Adegan pertama di bus ♡
| Sei kayak bayi ~ XD ini siapa sih yang kakaknya lol |
| Sei, daijoubu? |
Sei ngambek gara-gara Midori manggil Ai, "Ai niichan"
sedangkan tidak ada embel-embel khusus untuk dia.
| Pertengkaran konyol yang manis
♡
|
| Perang dingin |
Midori yang selalu memperhatikan Sei. Selalu Sei dan selamanya Sei ♡
| really? Sei is so~ haapy XD |
| ehem |
| no need to say. we all know it midori XD |
Sei si penggugup XDD
| i know what you thinking Sei~ |
![]() |
| Jealousy Sei XD |
| Dunia ini hanya milik kita berdua ~
♡
|
![]() |
| Kecemburuan memuncak......... o,O |
![]() |
| Janji Midori |
![]() |
| Sei, Fighting! |
| Last decision... |
Inilah review singkatku tentang VS-BROTHER.
Semoga kalian tertarik menontonnya ^___^ gak rugi kok!
Sekarang aku sedang menunggu CHASER di sub.
Semoga ada yang mau nge-sub.
Semoga ada yang mau nge-sub.
adakah yang mau melakukannya untukku?
hahaha :D
desty@nurmadestyanggraeni.blogspot.com












-tile.jpg)
-horz.jpg)

